Ketika berjalan di malam hari tubuh juga akan
lelah, di saat lelah itulah biasanya otak manusia
akan “membuat” imajinasinya sendiri, sehingga
mata akan merasa melihat objek-objek yang tidak
masuk akal ketika berada di atas gunung, dan hal
itu akan mempengaruhi psikologis pendaki itu
sendiri.
Namun, Naik gunung siang atau malam bukanlah
persoalan, tetapi itu hanya strategi dalam
manajemen perjalanan.
Dan harus siap mengambil segala resikonya......
Mungkin banyak yang kurang menyukai pendakian
pada siang hari. Yang pasti jelas adalah cuaca
yang panas terik, jalur yang mirip punggung ular
naik tangga yang bikin mental ini kadang jatuh.
Alasan klasik, tetapi jika sudah niat mendaki
harus tetap dijalani setapak demi setapak.
Hahahhaahha......
Nih manfaat pendakian di siang Hari :
Mendaki pada siang hari memiliki banyak
keuntungan. Navigasi akan sangat mudah sekali,
karena bentang alam terlihat dengan jelas. Bagi
pecinta fotografi, inilah surganya berburu
keindahan, binatang liar hingga pemandangan
alam yang menajubkan. Pada siang hari, tentu
saja tidak membutuhkan bantuan alat penerangan
karena cahaya matahari jauh lebih dari cukup.
Manusia tercipta sebagai mahluk diurnal, yakni
beraktifitas pada siang hari, sehingga inilah
saatnya bekerja. Tingkat kewaspadaan siang hari
jauh lebih baik dari pada malah hari, karena mata
akan awas dalam melihat.
Menjelang senja, saatnya pendakian harus
berhenti. Tenda didirikan, alat masak dan
perbekalan dikeluarkan dan saatnya pesta kuliner
saat makan malam tiba. Malam hari di dalam
tenda yang hangat mungkin waktu yang tepat
untuk bersosialisasi dengan sesama pendaki,
sambil menikmati hangatnya cokelat susu. Bagi
pecinta fotografi, malam hari adalah moment
yang pas untuk memotret angkasa dengan langit
jernih. Bagi yang ingin tidur, inilah puncak rasa
lelah dan segeralah masuk dalam kantung tidur
sebelum esok harus melanjutkan perjalanan.
Lagi enak-enaknya dalam tenda yang hangat
terdengar jejak langkah kaki dengan lampu
senternya. Nafas terengah-engah, dan badan
kedinginan karena keringat yang tak kunjung
mengering. Tubuh mengeluarkan ekstra energi
untuk menghangatkan badan serta menyuplai
kebutuhan tenaga untuk otot-otot yang dipacu
jalan malam hari. Disisi lain dalam tenda yang
hangat, suara orang tidur mendengkur karena
kelelahan menyiratkan tidur yang nyenyak dan
nikmat.
Menjelang fajar tiba, kita semua ketemu di puncak
gunung. Bagi mereka yang semalam tidur nampak
wajah-wajah segar dan bugar, berbeda dengan
yang semalaman begadang sambil berjalan.
Wajah kusut dengan mata merah serta tubuh
yang nampak letih. Segera setelah semua itu
berakhir, akan jalan turun menuju kaki gunung.
Mau tidak mau kemarin yang berjalan siang atau
semalam berjalan malam akan turun gunung
pada siang hari juga.
Kembali lagi pada selera, apakah ingin jalan siang
hari atau malam hari itu semua adalah pilihan.
Sangat bijaklah jika bisa menilai kemampuan diri
sebagai hakekat manusia diurnal, sebab malam
hari adalah jatah mahluk-mahluk nocturnal.
Manajemen perjalanan yang baik dibuat untuk
mengatur tiap langkah, apakah harus siang atau
malam. Pilihan memiliki konsekuensinya masing-
masing untuk meminimalkan potensi bahaya
primer dan skunder, silahkah memilih...
Mendaki siang atau malam, ibarat milih berjalan
atau ngesot. Potensi bahaya ada di depan mata.
Mengukur kemampuan diri, bijak dan utamakan
keselamatan. Tak hanya ego semata yang
ditonjolkan demi sebuah pengakuan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar