oleh Putra Lestari Alamku pada 23 Juli 2012 pukul 3:35 ·
Bebaskan Gunung dari Sampah

Mengapa
sejumlah gunung populer di negeri ini penuh sampah? Jawabnya simple,
banyak pendaki yang ‘buta’, tak peduli konservasi. Enggan membawa turun
cuma bungkus permen, snack, mie instan, dan kaleng/botol plastik
minumnya sendiri. Seenaknya menjadikan gunung tempat sampah raksasa
tertinggi. Terlalu! Detik ini berpartisipasilah bebaskan gunung dari
sampah. Caranya, ikuti beberapa langkah berikut ini .
Tugas menghapus kebiasaan menjadikan gunung sebagai tempat sampah
tertinggi di negeri ini atau di daerah sendiri, bukanlah petugas
kebersihan atau pengelola taman nasional, melainkan kita sendiri selaku
pendaki. Tak sulit koq, ikuti saja beberapa langkah membebaskan gunung dari sampah di bawah ini:
Meminimalis Logistik Plastik
Sampai
saat ini memang belum ada larangan membawa logistik berbungkus
plastik, kaleng, dan lainnya saat mendaki gunung. Tapi bukan berarti
seenaknya membawa bahan-bahan yang sulit lebur dengan tanah itu
sebanyak mungkin. Alangkah bijaknya mengurangi jumlah logistik yang
mencemarkan alam itu dengan logistik ramah lingkungan.
Contoh
pada hari pertama pendakian bila berangkat pagi setelah sarapan,
bawalah bekal untuk makan siang dan malam dengan nasi timbel atau
lontong berbungkus daun pisang ditambah menu sesuai selera yang tidak
cepat basi. Cara ini bukan cuma ramah lingkungan, pun lebih efisien
karena tinggal memasak air untuk membuat minuman penghangat.
Bila
membawa mie instan dalam jumlah besar, sebaiknya bungkusnya tidak
perlu dibawa mendaki, kecuali bungkus bumbunya. Isinya disatukan dalam
satu kantong plastik berikut bumbunya.
Lebih baik membawa minuman
kotak dibanding kaleng, karena sampah minuman kotak lebih mudah lebur
dan ringan dibanding kaleng. Tapi tetap saja kotak dan sedotannya harus
dibawa turun. Kurangi membawa minuman air mineral dan lainnya dalam
kemasan botol plastik dengan cara membawa wadah air yang praktis dan
dapat dipakai/disi berulang-ulang.

Turunkan Sampah Sendiri
Biasakan
dalam setiap pendakian menyediakan wadah khusus untuk menurunkan
sampah sendiri dan kelompok mulai dari yang kecil seperti bungkus
permen, bekas pembalut (bagi perempuan) sampai yang paling besar
seperti bivak atau ponco yang robek. Wadah khusus sampah kelompok harus
kuat agar ketika dibawa turun, sampahnya tidak tumpah atau tercecer.
Gunakan Tenaga Bantuan
Bila
keberatan menurunkan sampah sendiri ataupun kelompok, gunakan tenaga
bantuan khusus untuk menurunkannya. Misalkan porter khusus mengangkat
logistik dan menurunkan semua sampahnya. Tentu butuh biaya tambahan
untuk itu.
Briefing Sadar Konservasi
Pimpinan
pendakian kelompok kecil maupun massal yang diorganisir oleh
organisasi pecinta alam maupun komunitas, harus memberikan briefing
sadar konservasi kepada seluruh pesertanya. Dan mewajibkan setiap
peserta menjaga kelestarian gunung, minimal dengan menurunkan sampah
sendiri.
Tidak Buang Sisa Makanan di Mata Air dan Alirannya
Sisa
makanan seperti nasi, mie, dan lainnya sebaiknya dipendam dengan tanah
jauh dari sumber air. Jangan didiamkan begitu saja. Jangan mencuci
perlengkapan masak di mata air apalagi buang air besar dan kecil. Ambil
air di sumbernya lalu cucilah perlengkapan masak di tempat yang agak
jauh, begitu juga bila berak dan kencing

Tidak Bakar Sampah di Gunung
Selain
merusak dan meninggalkan bekas yang tak sedap dipandang mata, membakar
sampah di gunung juga rawan kebakaran hutan. Ini sudah kerap terjadi
di beberapa gunung. Jangan pula sembarang membuang putung rokok di
semak belukar terlebih pada musim kemarau. Jalan terbaik, bawa turun
sampah sekecil apapun.
Tidak Bertindak Vandalism
Cukup
tinggalkan jejak langkah, bukan coret-coretan di batu, kayu, maupun di
pos/shelter pendakian. Cukup ambil/rekam gambar, bukan ambil fauna dan
flora milik hutan gunung. Tak perlu menuliskan nama dan kelompok di
gunung hanya untuk sekadar membuktikan kalau sudah sampai di puncak
tertinggi. Coretan hasil vandalism yang bukan pada tempatnya itu sungguh merusak pemandangan.
Mengecek Logistik Pendaki
Biaskan
setiap pendaki membuat list logistik pendakiannya. Sedangkan pengelola
gunung dalam hal ini petugas taman nasional harus mengecek list
tersebut di kantor ataupun basecamp_titik awal pendakian, dan mewajibkan setiap pendaki menurunkan sampah dari logistiknya.
Patuhi Aturan dan Sanksi Tegas
Senantiasa
mengindahkan aturan yang berlaku. Pengelola gunung harus memberi
sanksi tegas kepada pendaki perorangan maupun kelompok yang terbukti
tidak menurunkan sampahnya sesuai list logistiknya ataupun melakukan
tindak vandalism. Sanksinya bukan cuma larangan mendaki lagi ke gunung
tersebut dan gunung lainnya selama periode tertentu, tapi juga membayar
denda berupa uang untuk biaya operasional pengangkutan sampah
tersebut.
Tebus 'Dosa' dengan Aksi Bersih Gunung
Bila
sebelumnya pernah melakukan dosa membuang sampah di gunung sekecil
apapun itu, tebuslah dengan melakukan aksi bersih gunung saat mendaki
gunung itu lagi. Bagi komunitas pendaki baik komersil maupun non profit,
sebisa mungkin melakukan aksi bersih gunung dalam setiap pendakian
massalnya. Jangan hanya jadi ajang pelampiasan ambisi pribadi ataupun
usaha menarik keuntungan semata. Alangkah bagusnya diiringi dengan
kegiatan bernilai konservasi minimal bersih gunung atau melakukan
reboisasi dan lainnya.

Sebarluaskan Aksi Green Climbing
Pemahaman tentang green climbing mountain
harus disebarluaskan kepada pendaki pemula maupun kelompok pecinta alam
baru lewat milis, jejaring sosial, diskusi, pendidikan dasar
kepecintaalaman di sekolah, kampus, dan lainnya. Tanamkan kesadaran
bahwa hutan, gunung, dan isinya adalah harta tak ternilai, investasi
masa depan untuk kehidupan generasi berikutnya.
Bila beberapa langkah di atas diindahkan setiap pendaki, terutama step 2, rasanya gunung-gunung populer sekalipun padat pendakinya, bisa terbebas sampah.
Berprospek Cerah
Perlu
diketahui, gunung-gunung di negeri ini pun menjadi tujuan obyek wisata
petualangan yang berprospek cerah karena kian diminati pendaki
mancanegara. Bila dikelola dengan baik, ke depan obyek ini berpeluang
menjaring pendaki mancanegara dalam jumlah yang lebih besar.
Bila
semua gunung populer kita bersih, asri, dan lestari (baca: bebas
sampah), pasti pendaki asing akan senang dan puas, lalu memberikan citra
positif dan menceritakan ke rekannya sesama pendaki. Sebaliknya bila
kotor, bisa jadi bumerang. Mereka akan menginformasikan betapa joroknya
prilaku segelincir pendaki kita hingga mungkin bisa membuat mereka
enggan mendaki lagi atau pendaki asing lainnya pun mengurungkan niatnya
mendaki.
Ingatlah prilaku jorok kita di gunung, dapat merusak imej seluruh pendaki di mata dunia. Nah, detik ini juga lakukanlah Green Adventuring, Green Mountaineering dalam setiap petualangan dan pendakian. selalu salam lestari…

BY . RHAKA YOGA (KAUMPALA JALA)
SAYANG LAH AKAN ALAM INI SEHINGGA KELAK ANAK DAN CUCU KITA BISA MENIKMATI PULA KINDAHAN ALAM ... ALAM JANTUNG BUAT BUMI INI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar