Jumat, 22 Mei 2015

Pendakian di malam hari hanya ada Gunung2 Indonesia loh


Add caption
 Semoga bermanfaat

Tahukah anda, pendakian di malam hari hanyaada Gunung2 Indonesia loh. Hihhihihi....

Waktu pendakian kemarin , sempat berdiskusi
Tentang para pendaki yang melakukan pendakian
di malam hari, Katanya Asik, gak terasa capek,
gak panas2an dan cepet sampe puncak
Padahal tahukah anda, pendakian yang dilakukan
pada malam hari banyak resiko-resiko yang
harus dihadapi nya loh.....
Diantara :

1. Dingin
Saat malam hari tentunya udara lebih dingin
daripada siang hari. Hal ini berpotensi besar akan
terkena hipotermia, terutama jika cuaca sedang
buruk.

2. Mengantuk
Manusia diciptakan sebagai makhluk diurnal,
yaitu beraktifitas di siang hari, dan ketika malam
hari otak otomatis akan merespon tubuh yang
telah lelah, sehingga akan terasa mengantuk,
karena pada malam hari inilah waktu yang tepat
untuk beristirahat.

3. Disorientasi medan
Ketika malam hari, cahaya matahari telah
bersembunyi di balik cakrawala sehingga
semuanya akan gelap. Di kegelapan itulah mata
kita sulit untuk melihat di kejauhan untuk
melakukan navigasi, meskipun ada senter sebagai
penerangan, hal itu belumlah cukup, karena
cahayanya tidak mencakup semuanya. Banyak
para pendaki yang tersesat di malam hari karena
disorientasi medan, bahkan banyak pula yang
mengalami kecelakaan seperti masuk ke dalam
jurang karena mata tidak bisa melihat dengan
jelas.

4. Gangguan satwa liar
Jika “beruntung” sobat petualang sekalian akan
bertemu dengan satwa-satwa nocturnal atau
yang aktif di malam hari seperti burung hantu,
musang, tarsius, hingga macan tutul

5. Sulit memotret
Bagi yang memiliki hobi fotografi tentunya akan
kecewa, karena akan kesulitan memotret. Sebab
fotografi sangat membutuhkan cahaya, meskipun
ada lampu flash dan senter, itu tidaklah cukup,
karena tidak bisa menjangkau bentang alam yang
sangat luas, belum lagi kesulitan untuk autofocus
dan mau tidak mau harus menggunakan long
exposure untuk mendapatkan foto pemandangan
di malam hari.

6. Halusinasi
Ketika berjalan di malam hari tubuh juga akan
lelah, di saat lelah itulah biasanya otak manusia
akan “membuat” imajinasinya sendiri, sehingga
mata akan merasa melihat objek-objek yang tidak
masuk akal ketika berada di atas gunung, dan hal
itu akan mempengaruhi psikologis pendaki itu
sendiri.
Namun, Naik gunung siang atau malam bukanlah
persoalan, tetapi itu hanya strategi dalam
manajemen perjalanan.
Dan harus siap mengambil segala resikonya......
Mungkin banyak yang kurang menyukai pendakian
pada siang hari. Yang pasti jelas adalah cuaca
yang panas terik, jalur yang mirip punggung ular
naik tangga yang bikin mental ini kadang jatuh.
Alasan klasik, tetapi jika sudah niat mendaki
harus tetap dijalani setapak demi setapak.
Hahahhaahha......
Nih manfaat pendakian di siang Hari :
Mendaki pada siang hari memiliki banyak
keuntungan. Navigasi akan sangat mudah sekali,
karena bentang alam terlihat dengan jelas. Bagi
pecinta fotografi, inilah surganya berburu
keindahan, binatang liar hingga pemandangan
alam yang menajubkan. Pada siang hari, tentu
saja tidak membutuhkan bantuan alat penerangan
karena cahaya matahari jauh lebih dari cukup.
Manusia tercipta sebagai mahluk diurnal, yakni
beraktifitas pada siang hari, sehingga inilah
saatnya bekerja. Tingkat kewaspadaan siang hari
jauh lebih baik dari pada malah hari, karena mata
akan awas dalam melihat.
Menjelang senja, saatnya pendakian harus
berhenti. Tenda didirikan, alat masak dan
perbekalan dikeluarkan dan saatnya pesta kuliner
saat makan malam tiba. Malam hari di dalam
tenda yang hangat mungkin waktu yang tepat
untuk bersosialisasi dengan sesama pendaki,
sambil menikmati hangatnya cokelat susu. Bagi
pecinta fotografi, malam hari adalah moment
yang pas untuk memotret angkasa dengan langit
jernih. Bagi yang ingin tidur, inilah puncak rasa
lelah dan segeralah masuk dalam kantung tidur
sebelum esok harus melanjutkan perjalanan.
Lagi enak-enaknya dalam tenda yang hangat
terdengar jejak langkah kaki dengan lampu
senternya. Nafas terengah-engah, dan badan
kedinginan karena keringat yang tak kunjung
mengering. Tubuh mengeluarkan ekstra energi
untuk menghangatkan badan serta menyuplai
kebutuhan tenaga untuk otot-otot yang dipacu
jalan malam hari. Disisi lain dalam tenda yang
hangat, suara orang tidur mendengkur karena
kelelahan menyiratkan tidur yang nyenyak dan
nikmat.
Menjelang fajar tiba, kita semua ketemu di puncak
gunung. Bagi mereka yang semalam tidur nampak
wajah-wajah segar dan bugar, berbeda dengan
yang semalaman begadang sambil berjalan.
Wajah kusut dengan mata merah serta tubuh
yang nampak letih. Segera setelah semua itu
berakhir, akan jalan turun menuju kaki gunung.
Mau tidak mau kemarin yang berjalan siang atau
semalam berjalan malam akan turun gunung
pada siang hari juga.
Kembali lagi pada selera, apakah ingin jalan siang
hari atau malam hari itu semua adalah pilihan.
Sangat bijaklah jika bisa menilai kemampuan diri
sebagai hakekat manusia diurnal, sebab malam
hari adalah jatah mahluk-mahluk nocturnal.
Manajemen perjalanan yang baik dibuat untuk
mengatur tiap langkah, apakah harus siang atau
malam. Pilihan memiliki konsekuensinya masing-
masing untuk meminimalkan potensi bahaya
primer dan skunder, silahkah memilih...
Mendaki siang atau malam, ibarat milih berjalan
atau ngesot. Potensi bahaya ada di depan mata.
Mengukur kemampuan diri, bijak dan utamakan
keselamatan. Tak hanya ego semata yang
ditonjolkan demi sebuah pengakuan .

SalamAngkut.......

Sumber :
1.) Pendaki ngeus Kolot
2.) Mbah Gogel
3.) Mbah Yutob

Minggu, 02 September 2012

Bebaskan Gunung dari Sampah... APA KITA BISA


Bebaskan Gunung dari Sampah... APA KITA BISA

oleh Putra Lestari Alamku pada 23 Juli 2012 pukul 3:35 ·
Bebaskan Gunung dari Sampah



Mengapa sejumlah gunung populer di negeri ini penuh sampah? Jawabnya simple, banyak pendaki yang ‘buta’, tak peduli konservasi. Enggan membawa turun cuma bungkus permen, snack, mie instan, dan kaleng/botol plastik minumnya sendiri. Seenaknya menjadikan gunung tempat sampah raksasa tertinggi. Terlalu! Detik ini berpartisipasilah bebaskan gunung dari sampah. Caranya, ikuti beberapa langkah berikut ini . Tugas menghapus kebiasaan menjadikan gunung sebagai tempat sampah tertinggi di negeri ini atau di daerah sendiri, bukanlah petugas kebersihan atau pengelola taman nasional, melainkan kita sendiri selaku pendaki. Tak sulit koq, ikuti saja beberapa langkah membebaskan gunung dari sampah di bawah ini:

Meminimalis Logistik Plastik
Sampai saat ini memang belum ada larangan membawa logistik berbungkus plastik, kaleng, dan lainnya saat mendaki gunung. Tapi bukan berarti seenaknya membawa bahan-bahan yang sulit lebur dengan tanah itu sebanyak mungkin. Alangkah bijaknya mengurangi jumlah logistik yang mencemarkan alam itu dengan logistik ramah lingkungan.
Contoh pada hari pertama pendakian bila berangkat pagi setelah sarapan, bawalah bekal untuk makan siang dan malam dengan nasi timbel atau lontong berbungkus daun pisang ditambah menu sesuai selera yang tidak cepat basi. Cara ini bukan cuma ramah lingkungan, pun lebih efisien karena tinggal memasak air untuk membuat minuman penghangat.

Bila membawa mie instan dalam jumlah besar, sebaiknya bungkusnya tidak perlu dibawa mendaki, kecuali bungkus bumbunya. Isinya disatukan dalam satu kantong plastik berikut bumbunya.
Lebih baik membawa minuman kotak dibanding kaleng, karena sampah minuman kotak lebih mudah lebur dan ringan dibanding kaleng. Tapi tetap saja kotak dan sedotannya harus dibawa turun. Kurangi membawa minuman air mineral dan lainnya dalam kemasan botol plastik dengan cara membawa wadah air yang praktis dan dapat dipakai/disi berulang-ulang.




Turunkan Sampah Sendiri
Biasakan dalam setiap pendakian menyediakan wadah khusus untuk menurunkan sampah sendiri dan kelompok mulai dari yang kecil seperti bungkus permen, bekas pembalut (bagi perempuan) sampai yang paling besar seperti bivak atau ponco yang robek. Wadah khusus sampah kelompok harus kuat agar ketika dibawa turun, sampahnya tidak tumpah atau tercecer.

Gunakan Tenaga Bantuan
Bila keberatan menurunkan sampah sendiri ataupun kelompok, gunakan tenaga bantuan khusus untuk menurunkannya. Misalkan porter khusus mengangkat logistik dan menurunkan semua sampahnya. Tentu butuh biaya tambahan untuk itu.

Briefing Sadar Konservasi
Pimpinan pendakian kelompok kecil maupun massal yang diorganisir oleh organisasi pecinta alam maupun komunitas, harus memberikan briefing sadar konservasi kepada seluruh pesertanya. Dan mewajibkan setiap peserta menjaga kelestarian gunung, minimal dengan menurunkan sampah sendiri.

Tidak Buang Sisa Makanan di Mata Air dan Alirannya
Sisa makanan seperti nasi, mie, dan lainnya sebaiknya dipendam dengan tanah jauh dari sumber air. Jangan didiamkan begitu saja. Jangan mencuci perlengkapan masak di mata air apalagi buang air besar dan kecil. Ambil air di sumbernya lalu cucilah perlengkapan masak di tempat yang agak jauh, begitu juga bila berak dan kencing




Tidak Bakar Sampah di Gunung
Selain merusak dan meninggalkan bekas yang tak sedap dipandang mata, membakar sampah di gunung juga rawan kebakaran hutan. Ini sudah kerap terjadi di beberapa gunung. Jangan pula sembarang membuang putung rokok di semak belukar terlebih pada musim kemarau. Jalan terbaik, bawa turun sampah sekecil apapun.

Tidak Bertindak Vandalism
Cukup tinggalkan jejak langkah, bukan coret-coretan di batu, kayu, maupun di pos/shelter pendakian. Cukup ambil/rekam gambar, bukan ambil fauna dan flora milik hutan gunung. Tak perlu menuliskan nama dan kelompok di gunung hanya untuk sekadar membuktikan kalau sudah sampai di puncak tertinggi. Coretan hasil vandalism yang bukan pada tempatnya itu sungguh merusak pemandangan.

Mengecek Logistik Pendaki
Biaskan setiap pendaki membuat list logistik pendakiannya. Sedangkan pengelola gunung dalam hal ini petugas taman nasional harus mengecek list tersebut di kantor ataupun basecamp_titik awal pendakian, dan mewajibkan setiap pendaki menurunkan sampah dari logistiknya.

Patuhi Aturan dan Sanksi Tegas
Senantiasa mengindahkan aturan yang berlaku. Pengelola gunung harus memberi sanksi tegas kepada pendaki perorangan maupun kelompok yang terbukti tidak menurunkan sampahnya sesuai list logistiknya ataupun melakukan tindak vandalism. Sanksinya bukan cuma larangan mendaki lagi ke gunung tersebut dan gunung lainnya selama periode tertentu, tapi juga membayar denda berupa uang untuk biaya operasional pengangkutan sampah tersebut.

Tebus 'Dosa' dengan Aksi Bersih Gunung
Bila sebelumnya pernah melakukan dosa membuang sampah di gunung sekecil apapun itu, tebuslah dengan melakukan aksi bersih gunung saat mendaki gunung itu lagi. Bagi komunitas pendaki baik komersil maupun non profit, sebisa mungkin melakukan aksi bersih gunung dalam setiap pendakian massalnya. Jangan hanya jadi ajang pelampiasan ambisi pribadi ataupun usaha menarik keuntungan semata. Alangkah bagusnya diiringi dengan kegiatan bernilai konservasi minimal bersih gunung atau melakukan reboisasi dan lainnya.



Sebarluaskan Aksi Green Climbing
Pemahaman tentang green climbing mountain harus disebarluaskan kepada pendaki pemula maupun kelompok pecinta alam baru lewat milis, jejaring sosial, diskusi, pendidikan dasar kepecintaalaman di sekolah, kampus, dan lainnya. Tanamkan kesadaran bahwa hutan, gunung, dan isinya adalah harta tak ternilai, investasi masa depan untuk kehidupan generasi berikutnya.
Bila beberapa langkah di atas diindahkan setiap pendaki, terutama step 2, rasanya gunung-gunung populer sekalipun padat pendakinya, bisa terbebas sampah.

Berprospek Cerah
Perlu diketahui, gunung-gunung di negeri ini pun menjadi tujuan obyek wisata petualangan yang berprospek cerah karena kian diminati pendaki mancanegara. Bila dikelola dengan baik, ke depan obyek ini berpeluang menjaring pendaki mancanegara dalam jumlah yang lebih besar.
Bila semua gunung populer kita bersih, asri, dan lestari (baca: bebas sampah), pasti pendaki asing akan senang dan puas, lalu memberikan citra positif dan menceritakan ke rekannya sesama pendaki. Sebaliknya bila kotor, bisa jadi bumerang. Mereka akan menginformasikan betapa joroknya prilaku segelincir pendaki kita hingga mungkin bisa membuat mereka enggan mendaki lagi atau pendaki asing lainnya pun mengurungkan niatnya mendaki.

Ingatlah prilaku jorok kita di gunung, dapat merusak imej seluruh pendaki di mata dunia. Nah, detik ini juga lakukanlah Green Adventuring, Green Mountaineering dalam setiap petualangan dan pendakian. selalu salam lestari…







BY . RHAKA YOGA (KAUMPALA JALA)


SAYANG LAH AKAN ALAM INI SEHINGGA KELAK ANAK DAN CUCU KITA BISA MENIKMATI PULA  KINDAHAN ALAM  ... ALAM JANTUNG BUAT BUMI INI